Mahmoud Ahmadinejad adalah seorang pemimpin yang sederhana, cerdas, dan berani. Ia mengendarai sendiri mobil tua Peugeot dan tinggal di sebuah rumah sederhana dekat Teheran.
Dalam rangka pengiritan, istrinya membeli kurma Iran di New York, dibawa ke hotel di mana Ahmadinejad tinggal ketika harus berpidato di sidang umum PBB. Mereka tidak makan di restoran mewah. Jaket sederhananya selalu menempel di badan Ahmadinejad. Ia mengidentifikasikan dirinya sebagai pejuang hak-hak orang kecil dan lemah.
Akan tetapi jangan bertanya tentang kekukuhan pendiriannya dan keberaniannya. Dari mana asal muasal keberanian Presiden Iran yang berusia 51 tahun itu?
Seorang dubes Iran untuk Indonesia mengatakan, sederhana saja. Ahmadinejad mengatakan, karena hidup di dunia hanya sekali saja, mengapa harus menjadi pengecut atau penakut sampai melacurkan prinsip? Barangkali seperti kata penyair besar kita, Chairil Anwar, sekali berarti, kemudian mati. Atau seperti kata pepatah Arab, “isy kariiman au ut syahiidan“, hiduplah terhormat atau matilah sebagai syahid (pejuang).
Iran di bawah para pemimpinnya yang memegang teguh kedaulatan, kemerdekaan dan kemandirian telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Sekalipun ekonomi Iran menjadi bermasalah karena tekanan politik, diplomatik dan ekonomi yang dilakukan oleh Washington tidak pernah dikendurkan, tetapi masa depan Iran justru tetap menjanjikan. Ternyata Iran termasuk sedikit negara yang segera menyusul masuk ke dalam elite iptek internasional.
Adalah Dr. Mahatir Mohammad, mantan perdana menteri Malaysia, yang mengingatkan kita tentang bahaya neokolonialisme. Dalam pidatonya di depan the Asia HRD Congress di Jakarta, 3 Mei 2006, Mahatir mengatakan :