indonesiamelawan

Posts Tagged ‘malaysia’

Dipandang Sebelah Mata oleh Malaysia

In Artikel on June 2, 2009 at 5:26 am

Bukan saja Singapura yang melihat kita dengan sebelah mata. Malaysia, negeri serumpun, juga nampak meremehkan Indonesia. Sebab peremehan itu karena di mata Malaysia, Indonesia lemah dan tidak beresiko bila Malaysia mengganggu dan kalau perlu menekan Indonesia dalam banyak hal.

56561

Setelah mencaplok Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan lewat Mahkamah Internasional pada akhir 2002, Malaysia nampak ingin mengulangi kesuksesannya dengan mengklaim Blok Ambalat sebagai bagian dari Malaysia. Sejauh ini kita masih berhasil mengamankan Ambalat sebagai bagian integral wilayah Indonesia. Namun melihat Malaysia yang makin licin dan cenderung licik, Indonesia harus tetap hati-hati dan waspada.

para-TKIMalaysia cenderung merusak hubungan dengan Indonesia lewat klaim yang sering dibuat Malaysia yang di telinga dan mata Indonesia cukup mengagetkan. Misalnya, musik angklung, batik, reog, lagu rasa sayang hey, lagu Di Bawah Bulan Purnama, budaya Dayak dan lain-lain diklaim sebagai berasal dari dan milik Malaysia.

Keangkuhan Malaysia juga tampak bagaimana mereka menyebut TKI/TKW kita sebagai Indon dengan konotasi yang sinis. Yang menyakitkan lagi adalah bagaimana para TKI ilegal, setelah ditangkap, dicambuki dulu seperti binatang, sebelum dideportasi kembali ke Indonesia. Asal muasal rentetan kejadian itu begitu jelas, yakni karena Indonesia di mata Malaysia lemah. Ada semacam aksioma dalam hubungan internasional, setiap negara yang lemah, oleh tetangganya akan terus diremehkan dan bahkan diintervensi, dicampur-tangani.

Negara dengan elite yang masih bermental inlander memang sulit diharapkan dapat membela kepentingan nasional (kepentingan bangsa) dengan tegas, bermanfaat dan proporsional. Sayang sekali, masih terlalu banyak elite Indonesia yang belum berhasil lepas dari kungkungan kolonisasi mental, penjajahan mental.

Lemah dan Dianggap Remeh oleh Singapura

In Artikel on June 2, 2009 at 3:30 am

tuas3Sulit dibantah bahwa Singapura, yang mengklaim dirinya sebagai law-abiding country, negara yang taat hukum, ternyata telah menjadi tukang tadah pencurian pasir Indonesia. Pada 2001, data resmi di Indonesia menunjukkan bahwa jumlah ekspor pasir kurang dari 75 juta meter kubik, sedangkan Singapura mengimpor pasir sebanyak 300 juta meter kubik. Di Asia Tenggara tidak ada negara yang serampangan dan tanpa pikir ulang dalam menjual aset pasir atau tanahnya ke negara lain, kecuali Indonesia. Selisih jumlah pasir berdasarkan data resmi itu berarti bahwa yang tidak termonitor berasal dari perdagangan pasir ilegal dengan pembeli tunggal, Singapura.

Dalam kaitan jual-beli pasir atau curi-tadah pasir, masyarakat Malaysia menampakkan harga diri leih tinggi. Ketika muncul sindikat pengeruk pasir yang mengambi pasir di teritori Malaysia dan dijual Singapura, tokoh-tokoh Malaysia tampil dengan tegas. Mereka menganggap para penjual pasir itu sebagai penghianat bangsa. Titik. Perdagangan pasir Malaysia kemudian berhenti segera.

tuas2Di Indonesia, masyarakat pada umumnya, pemerintah dan media massa seolah menganggap pencurian asir Indonesia yang terjadi siang-malam sebagai biasa-biasa saja, seperti bukan kejahatan. Padahal kerusakan lingkungan yang diderita Indonesia cukup parah. Belum lagi penghinaan tak terucapkan yang sesungguhnya kita derita dari waktu ke waktu. Di sebelah itu kenyataannya dengan reklamasi terus-menerus, batas garis pantai Singapura terus bergerak keluar. Diperkirakan pulau Nipah, pulau milik Indonesia yang sangat dekat dengan garis pantai Singapura suatu ketika dapat dicaplok Singapura pelan-pelan.

Pertanyaan sederhana yang perlu diajukan dalam kaitan ini adalah mengapa negara tetangga kita, Singapura, menganggap kita demikian remeh? Jawabannya tentu kita lemah. Organized crime dalam bentuk pencurian pasir sepanjang masa terus terjadi, tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Globalisasi dan Imperialisme Ekonomi

In Artikel on May 17, 2009 at 9:48 am

chickenhawk-bigAdalah Dr. Mahatir Mohammad, mantan perdana menteri Malaysia, yang mengingatkan kita tentang bahaya neokolonialisme. Dalam pidatonya di depan the Asia HRD Congress di Jakarta, 3 Mei 2006, Mahatir mengatakan :

“Neokolonialisme bukanlah istilah khayalan yang diciptakan oleh Presiden Sukarno. Ia (neokolonialisme) itu nyata. Kita merasakannya tatkala kita hidup berada di bawah kontrol agen-agen yang dikendalikan oleh mantan penjajah kita.”

Ketika kita bangsa Indonesia, termasuk para pemimpinnya sudah melupakan ajaran Bung Karno, justru pemimpin negara kita, Malaysia, yang masih mengingatnya. Mungkin bukan saja lupa, tetapi secara tidak sadar sebagian kita malah sudah melawan ajaran Bung Karno dalam praktik atau kenyataan. Bayangkan, arah kebijakan politik luar negeri kita yang bebas dan aktif dapat tiba-tiba berbalik arah karena Pemerintah kita mendapatkan telepon dari Gedung Putih di Washington.

Rakyat Iran dan dunia tahu ketika Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran, berkunjung ke Indonesia pada 2006, Presiden Yudhoyono menyatakan Indonesia mendukung program pengembangan nuklir Iran untuk perdamaian. Tetapi dukungan itu dicabut karena Indonesia akhirnya memilih mendukung Resolusi DK PBB 1747 yang mengenakan sanksi terhadap Iran, karena Iran bersikukuh mengembangkan kemampuan nuklirnya. Semua orang tahu bahwa Resolusi PBB itu dimotori oleh AS. Kebijakan luar negeri kita pada Iran sebagai negara sahabat dengan gampangnya berubah karena ada telepon dari Presiden Bush. Martabat apakah sesungguhnya yang sedang kita pertaruhkan kepada dunia?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.