indonesiamelawan

Posts Tagged ‘korporasi’

Diacak-acak Kekuatan Korporatokrasi

In Artikel on June 2, 2009 at 3:57 am

radarsurabayaSetelah lebih dari 63 tahun merdeka semestinya para pemimpin (elite) Indonesia sudah berhasil secara relatif membawa Indonesia ke tahapan yang betul-betul merdeka. Alih-alih mencapai tujuan proklamasi yang mulia seperti diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, banyak diantara elite kita justru menjadikan Indonesia sebagai bagian dari korporatokrasi internasional, di bagian paling bawah dalam struktur korporatokrasi itu.

Dalam kenyataan elite yang sedang diberi amanat rakyat justru membuka gerbang buat masuknya kekuatan korpotokrasi itu untuk mengacak-acak dan menjarah sumber daya alam kita, di daratan dan di lautan. Bahkan ketika satelit Palapa kita di ruang angkasa telah dimiliki Temasek ketika kepemilikan Indosat sudah beralih ke Singapura.

Menggadaikan kekayaan kita sampai puluhan tahun bahkan setengah abad kepada korporasi asing lewat kontrak karya dan kontrak kerja sama yang merugikan bangsa sendiri adalah langkah sesat. Mempersilahkan korporasi asing untuk memegang HPH sampai puluhan tahun adalah langkah sesat. Menyerahkan Blok Cepu yang kaya minyak dan gas kepada Exxon Mobil adalah langkah sesat. Membiarkan 50% perbankan nasional di tangan asing adalah langkah sesat. Menjual Indosat dan dua tanker raksasa (vlcc) milik Pertamina kepada pihak asing adalah langkah sesat. Membuat DCA (Persetujuan Pertahanan Bersama) yang sepenuhnya menguntungkan Singapura dan merugikan bangsa sendiri adalah langkah sesat. Menjadikan ibu pertiwi sebagai alas kaki kepentingan kapitalisme Internasional adalah langkah sesat. Menegakkan hukum secara tebang pilih dan menggoyahkan rasa keadilan adalah langkah sesat.

kSJNamun, masalahnya menjadi tidak sederhana, ketika mereka yang melakukan langkah sesat itu merasa sedang berbuat kebajikan, seolah sedang berkhidmat pada bangsanya.

“Katakanlah: Pernahkah Kami ceritakan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sesat jalan kehidupannya, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat kebajikan.” (Al Kahfi 103-104)

Perbankan Nasional yang Memprihatinkan

In Artikel on May 17, 2009 at 5:20 pm

Bank IndonesiaElite nasional kita nampak menyerah total terhadap kekuatan keuangan internasional. Perbankan Indonesia, sebagai urat nadi ekonomi bangsa, sudah bertekuk lutut di hadapan kekuatan ekonomi global. Dominasi asing dalam perbankan nasional dari hari ke hari semakin mendalam dan meluas.  Masalah pokok dalam kaitan ini jelas. Bank Indonesia sendiri tidak membatasi kepemilikan asing, karena investor atau badan hukum asing, boleh memiliki hingga 99 persen saham bank di Indonesia. Angka 99 persen itu merupakan angka ajaib yang membuka pintu penjajahan ekonomi Indonesia semakin terbuka.

Lihatlah negara-negara di lingkungan Asia, bagaimana mereka tidak cukup bodoh untuk menyerahkan bulat-bulat perbankan nasional mereka ke pihak asing. Filipina membatasi kepemilikan asing hanya sampai 51 persen, Thailand 49 persen, India 49 persen, Malaysia 30 persen, China 25 persen, Vietnam 30 persen.

Negara-negara Asia ini sadar, kalau pihak asing diperbolehkan menguasai perbankan nasional mereka, ekonomi mereka akan tersandera oleh asing dan mereka tidak akan pernah menjadi tuan di negeri sendiri. Amerika Serikat, pemimpin puncak globalisasi dan liberalisasi ekonomi saja, membatasi kepemilikan asing di perbankan nasionalnya hanya sampai 30 persen.

sektor keuanganMenurut Biro Riset Info Bank pada penghujung akhir 2005 penguasaan aset oleh pihak asing mencapai 48,51 persen, pemerintah hanya 37,45 persen dan selebihnya dikuasai kalangan swasta. Namun tidak tertutup kemungkinan kalangan swasta itu merupakan kepanjangan tangan belaka dari korporasi asing. Sehingga cukup aman mengatakan bahwa lebih dari 50 persen perbankan nasional kita kini sudah dikuasai asing. Pada awal 2008 laju kepemilikan asing atas aset perbankan nampaknya juga semakin pesat.

Miranda Goeltom dari Bank Indonesia menegaskan bahwa BI tidak akan pernah membatasi kepemilikan asing pada instrumen SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Padahal uang dari luar yang masuk ke Indonesia sangat gigih memborong SBI.

Kita tidak boleh lupa bunga yang dibayar oleh BI untuk SBI yang dimiliki asing itu adalah uang negara, uang rakyat Indonesia. Dengan demikian negara atau rakyat kita membayar bunga SBI yang dimiliki asing itu untuk memperkaya mereka. Sertifikat Bank Indonesia jelas bukan instrumen investasi.

Mengapa BI tidak pernah membatasi kepemilikan asing dalam mengoleksi SBI?

Lihatlah China!

In Profil on May 17, 2009 at 3:16 pm

CIETACLihatlah China.

Negara ini penerima FDI (foreign direct investment) terbesar dibandingkan negara-negara lain. China tidak pernah mau “membeli” teori arbitrase ala Bank Dunia (WB) atau ala imperialis lainnya. China mendirikan sendiri lembaga arbitrase yang dinamakan China International Economic and Trade Arbitration Commission (CIETAC).

Setiap kasus perselisihanantar perusahaan atau korporasi asing dengan pemerintah China harus diselesaikan lewat CIETAC, titik. Gagah bukan? Korporasi asing di China tidak ada yang mengeluh, membantah, apalagi protes.

Beranikah Indonesia mengikuti Cina yang bertindak berani dan rasional?

Belajar dari Negara-negara Amerika Latin

In Artikel on May 17, 2009 at 2:36 pm

imageNegara-negara Amerika Latin sudah “siuman” dari tidur panjang yang merugikan diri sendiri, tidur di atas pangkuan kekuatan ekonomi raksasa yang sekaligus menyedot kekayaan alam negara-negara Amerika Latin tersebut. Pada pertengahan tahun 2007 Bolivia, Venezuela dan Nicaragua mengejutkan para pengamat internasional. Ketiga negara ini mengumumkan mencabut diri dari badan arbitrase internasional di bawah Bank Dunia (WB), yaitu ICSID (International Center for Settlement of Investment Disputes) atau Pusat Internasional untuk Penyelesaian Perselisihan Investasi. ICSID adalah tempat menyelesaikan kasus-kasus perselisihan antara investor asing dengan negara-negara tuan rumah.Alasan Bolivia dan kawan-kawan masuk akal. Bagaimana ICSID sebagai badan arbitrase dapat mengambil posisi netral, sementara ia merupakan bagian dari Bank Dunia (WB)?

chavez_moralesTernyata WB juga tidak bisa apa-apa menghadapi aksi Bolivia dan kawan-kawan itu. Malah jangan lupa semua korporasi asing yang menambang minyak dan gas Bolivia akhirnya tunduk sepenuhnya ketika Bolivia secara sepihak (sekali lagi, secara sepihak) merekonstruksi semua kontrak karya yang semula terlalu merugikan rakyat Bolivia menjadi sangat menguntungkan. Padahal sebelumnya, korporasi seperti Exxon, Repsol, Petro Gas, Shell menakut-nakuti Bolivia, kalau Bolivia sampai meminta negosiasi ulang terhadap berbagai kontrak karya, Bolivia akan dikucilkan, akan dibawa ke arbitrase, dan lain sebagainya. Ternyata dengan sikap tegas dan rasional, semua “gertak sambal” korporasi besar itu tidak pernah dilaksanakan.

Sikap tegas itu sebelumnya ditunjukkan oleh Venezuela di bawah Hugo Chavez. Terbukti Chevron, Exxon Mobil, British Petroleum, Conoco Philips dan lain-lain tidak pernah hengkang dari Venezuela. Mereka tetap saja di sana, karena masih dapat membuat untung, sekalipun jauh lebih ramping.

062008p5Sama dengan Argentina. Setelah negeri ini kolaps pada 2001/2002, persis seperti Indonesia dua tahun sebelumnya (ingat betapa sulitnya kehidupan pada masa awal reformasi), Argentina melakukan pembaharuan kontrak-kontrak pertambangannya. Tidak ada cerita korporasi asing lari dari Argentina karena aturan-aturan baru yang dibuat Argentina secara sepihak. Mereka menerima perubahan-perubahan itu. Percaya apa tidak, dalam 5 tahun terakhir ini (2003-2007) pertumbuhan ekonomi Argentina rata-rata 8,6 persen per tahun, mendekati pertumbuhan ekonomi China yang menakjubkan itu.

Pelajaran sangat penting adalah bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara slogan reformasi harus ramah pada pasar, ramah pada investor (investor friendly) dengan jumlah FDI (investasi asing langsung) yang selalu ditunggu-tunggu dengan rasa berdebar dan panas-dingin oleh sedikit negara seperti Indonesia.

Hewan Piaraan Vs Umat Manusia

In Artikel on May 17, 2009 at 11:04 am

inTouchArticleFakta dan angka berikut ini menggambarkan bagaimana kesenjangan ekonomi antar negara sudah kelewatan dalam era globalisasi sekarang ini.

Perbaikan pendidikan-dasar-untuk-semua di negara-negara berkembang memerlukan dana sebesar $6 milyar setahun, jumlah yang sangat terbatas dibandingkan dengan $8 milyar yang dihabiskan untuk belanja kosmetik di AS saja.

Instalasi air dan sanitasi di negara-negara berkembang memerlukan $9 milyar, sedangkan konsumsi es krim mencapai $11 milyar di Eropa.

Pemeliharaan kesehatan dasar dan nutrisi memerlukan $13 milyar, sementara $17 milyar dihabiskan untuk membeli makanan hewan (kucing dan anjing) di Eropa dan Amerika Serikat.

Flyer Gizi Buruk Ayu (Web)3Masalahnya, bilamana hewan di negara-negara maju memperoleh perlakuan dan uang belanja yang lebih daripada sebagian besar umat manusia, pasti ada yang salah dengan distribusi kekayaan di dunia ini. Demikian juga apabila kemiskinan dunia yang memilukan sudah begitu meluas, sementara $35 milyar dibelanjakan untuk bisnis hiburan di Jepang; atau $105 milyar untuk konsumsi alkohol di Eropa; maka pasti ada yang salah, bahkan sangat salah, dengan berbagai lembaga internasional yang ada serta pola-pola kekuasaannya.

Noam Chomsky mengingatkan :

“Globalisasi yang tidak memproritaskan hak-hak rakyat (masyarakat) sangat mungkin merosot terjerembab ke dalam bentuk tirani, yang bersifat oligarkis dan oligopolitis. Globalisasi semacam itu didasarkan atas konsentrasi kekuasaan gabungan negara dan swasta yang secara umum tidak bertanggung jawab pada publik.”

Pengamatan Chomsky sungguh tepat. Kejahatan kebanyakan korporasi dalam melanggar HAM yang merusak lingkungan dan menguras kekayaan alam negara-negara berkembang memang sulit dijangkau oleh hukum dan politik dari negara yang enjadi korban globalisasi. Apalagi di negara yang serba lemah seperti Indonesia, kecenderungan imperialisme ekonomi yang mengakibatkan kesenjangan kaya-miskin antar negara menjadi semakin nyata.

James K. Galbraith berpendapat bahwa kesenjangan sosial ekonomi di jaman globalisasi adalah sebuah kejahatan yang sempurna (perfect crime).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.