Fakta dan angka berikut ini menggambarkan bagaimana kesenjangan ekonomi antar negara sudah kelewatan dalam era globalisasi sekarang ini.
Perbaikan pendidikan-dasar-untuk-semua di negara-negara berkembang memerlukan dana sebesar $6 milyar setahun, jumlah yang sangat terbatas dibandingkan dengan $8 milyar yang dihabiskan untuk belanja kosmetik di AS saja.
Instalasi air dan sanitasi di negara-negara berkembang memerlukan $9 milyar, sedangkan konsumsi es krim mencapai $11 milyar di Eropa.
Pemeliharaan kesehatan dasar dan nutrisi memerlukan $13 milyar, sementara $17 milyar dihabiskan untuk membeli makanan hewan (kucing dan anjing) di Eropa dan Amerika Serikat.
Masalahnya, bilamana hewan di negara-negara maju memperoleh perlakuan dan uang belanja yang lebih daripada sebagian besar umat manusia, pasti ada yang salah dengan distribusi kekayaan di dunia ini. Demikian juga apabila kemiskinan dunia yang memilukan sudah begitu meluas, sementara $35 milyar dibelanjakan untuk bisnis hiburan di Jepang; atau $105 milyar untuk konsumsi alkohol di Eropa; maka pasti ada yang salah, bahkan sangat salah, dengan berbagai lembaga internasional yang ada serta pola-pola kekuasaannya.
Noam Chomsky mengingatkan :
“Globalisasi yang tidak memproritaskan hak-hak rakyat (masyarakat) sangat mungkin merosot terjerembab ke dalam bentuk tirani, yang bersifat oligarkis dan oligopolitis. Globalisasi semacam itu didasarkan atas konsentrasi kekuasaan gabungan negara dan swasta yang secara umum tidak bertanggung jawab pada publik.”
Pengamatan Chomsky sungguh tepat. Kejahatan kebanyakan korporasi dalam melanggar HAM yang merusak lingkungan dan menguras kekayaan alam negara-negara berkembang memang sulit dijangkau oleh hukum dan politik dari negara yang enjadi korban globalisasi. Apalagi di negara yang serba lemah seperti Indonesia, kecenderungan imperialisme ekonomi yang mengakibatkan kesenjangan kaya-miskin antar negara menjadi semakin nyata.
James K. Galbraith berpendapat bahwa kesenjangan sosial ekonomi di jaman globalisasi adalah sebuah kejahatan yang sempurna (perfect crime).
Adalah Dr. Mahatir Mohammad, mantan perdana menteri Malaysia, yang mengingatkan kita tentang bahaya neokolonialisme. Dalam pidatonya di depan the Asia HRD Congress di Jakarta, 3 Mei 2006, Mahatir mengatakan :