indonesiamelawan

Posts Tagged ‘bolivia’

Nasionalisasi di Bolivia

In Profil on May 17, 2009 at 4:34 pm

bolivia-0032Pelajaran penting untuk para tokoh yang masih bermentalitas inlander adalah apa yang dilakukan Bolivia. Sejak 1 Mei 2006 seluruh industri gas alam di Bolivia dinasionalisasi secara penuh. Hanya ada dua pilihan bagi korporasi asing yang selama itu telah menjarah sumber daya alam Bolivia lewat kontrak karya dan kontrak production sharing, yang terlalu menguntungkan mereka secara ugal-ugalan.

Dua pilihan itu adalah expulsion (hengkang) atau nasionalisasi. Ternyata Exxon Mobil Amerika Serikat, Total Perancis, Repsol Spanyol, British Petroleum dan semua korporasi asing tidak ada yang hengkang, semua tetap menambang di Bolivia dengan kontrak yang jauh menguntungkan Bolivia.

evo_morales_presidente_de_bolivia_articlepopupBerkat nasionalisme atau renegosiasi radikal terhadap aturan main kegiatan industri tambang yang baru, penghasilan (revenue) Bolivia melonjak 6 kali (sekali lagi, 6 kali!) dibandingkan apa yang diperoleh Bolivia tahun 2002. Bisakah Indonesia mengambil pelajaran dari Bolivia?

Karena kekuatan imperialis dan kapitalis Amerika Serikat tidak pernah dapat menerima reformasi ekonomi dan politik Bolivia, Evo Morales dan para koleganya harus selalu waspada terhadap jebakan atau jeratan khas predator ekonomi (Amerika Serikat) yang sedang mengalami proses kemerosotan di mana-mana.

Belajar dari Negara-negara Amerika Latin

In Artikel on May 17, 2009 at 2:36 pm

imageNegara-negara Amerika Latin sudah “siuman” dari tidur panjang yang merugikan diri sendiri, tidur di atas pangkuan kekuatan ekonomi raksasa yang sekaligus menyedot kekayaan alam negara-negara Amerika Latin tersebut. Pada pertengahan tahun 2007 Bolivia, Venezuela dan Nicaragua mengejutkan para pengamat internasional. Ketiga negara ini mengumumkan mencabut diri dari badan arbitrase internasional di bawah Bank Dunia (WB), yaitu ICSID (International Center for Settlement of Investment Disputes) atau Pusat Internasional untuk Penyelesaian Perselisihan Investasi. ICSID adalah tempat menyelesaikan kasus-kasus perselisihan antara investor asing dengan negara-negara tuan rumah.Alasan Bolivia dan kawan-kawan masuk akal. Bagaimana ICSID sebagai badan arbitrase dapat mengambil posisi netral, sementara ia merupakan bagian dari Bank Dunia (WB)?

chavez_moralesTernyata WB juga tidak bisa apa-apa menghadapi aksi Bolivia dan kawan-kawan itu. Malah jangan lupa semua korporasi asing yang menambang minyak dan gas Bolivia akhirnya tunduk sepenuhnya ketika Bolivia secara sepihak (sekali lagi, secara sepihak) merekonstruksi semua kontrak karya yang semula terlalu merugikan rakyat Bolivia menjadi sangat menguntungkan. Padahal sebelumnya, korporasi seperti Exxon, Repsol, Petro Gas, Shell menakut-nakuti Bolivia, kalau Bolivia sampai meminta negosiasi ulang terhadap berbagai kontrak karya, Bolivia akan dikucilkan, akan dibawa ke arbitrase, dan lain sebagainya. Ternyata dengan sikap tegas dan rasional, semua “gertak sambal” korporasi besar itu tidak pernah dilaksanakan.

Sikap tegas itu sebelumnya ditunjukkan oleh Venezuela di bawah Hugo Chavez. Terbukti Chevron, Exxon Mobil, British Petroleum, Conoco Philips dan lain-lain tidak pernah hengkang dari Venezuela. Mereka tetap saja di sana, karena masih dapat membuat untung, sekalipun jauh lebih ramping.

062008p5Sama dengan Argentina. Setelah negeri ini kolaps pada 2001/2002, persis seperti Indonesia dua tahun sebelumnya (ingat betapa sulitnya kehidupan pada masa awal reformasi), Argentina melakukan pembaharuan kontrak-kontrak pertambangannya. Tidak ada cerita korporasi asing lari dari Argentina karena aturan-aturan baru yang dibuat Argentina secara sepihak. Mereka menerima perubahan-perubahan itu. Percaya apa tidak, dalam 5 tahun terakhir ini (2003-2007) pertumbuhan ekonomi Argentina rata-rata 8,6 persen per tahun, mendekati pertumbuhan ekonomi China yang menakjubkan itu.

Pelajaran sangat penting adalah bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara slogan reformasi harus ramah pada pasar, ramah pada investor (investor friendly) dengan jumlah FDI (investasi asing langsung) yang selalu ditunggu-tunggu dengan rasa berdebar dan panas-dingin oleh sedikit negara seperti Indonesia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.