Kalau ingin mendapat bantuan hutang, negara-negara berkembang harus melaksanakan SAP (structural adjustment programs) yang didiktekan secara sepihak. Bila ada elite nasional yang begitu tunduk dan patuh pada kemauan IMF dan WB, elite nasional negara berkembang itu akan dipuji dengan segala pujian bohong-bohongan sampai elite nasional itu tidak sadarkan diri. Elite nasional negara-negara tertentu yang sudah menjadi hamba sahaya IMF dan WB itu diberi khutbah yang harus dijalankan.
Khutbah itu kira-kira :
Supaya dapat membayar hutang pemerintah harus mengisi kocek nasional dengan jalan menjual aset negara (BUMN) dan perusahaan-perusahaan milik negara lainnya;
lupakan dulu anggaran belanja negara untuk pendidikan, kesehatan, perawatan anak, dan dana pensiun atau keluarkan secara mnimal saja;
deregulasi ekonomi dijalankan tanpa ampun;
buka pasar secara penuh dalam rangka perdagangan bebas;
kurangi subsidi bagi industri lokal dan perkecil tarif dan berbagai rintangan terhadap barang impor;
buka lebar-lebar ekonomi nasional agar korporasi multinasional dapat masuk tanpa halangan;
berilah izin dan kemudahan pada korporasi asing untuk mendapat akses langsung ke sumber daya alam dengan tawaran harga yang semurah-murahnya;
jangan pernah berani mematok nilai tukar uang rupiah terhadap uang asing karena “tidak realistis”;
dan tidak lupa disertakan gertak sambal “Awas, bila tidak taat, Anda akan dikucilkan oleh investor internasional.”
Terhadap khutbah IMF dan WB yang bersumber pada Washington Consensus itu, ada pemimpin yang berani menolak dan akhir-akhir ini bahkan menendang kedua lembaga dunia itu. Mereka menyadari bahwa kedua nstrumen imperialisme ekonomi itu sesungguhnya tidak sekuat seperti disangka oleh para pengecut dan terlalu sering menyebar “gertak sambal”. Akan tetapi ada juga para pemimpin negara tertentu yang ikut membuatkan sambal dan ikut menakut-nakuti rakyatnya supaya patuh dengan IMF dan WB.