Dalam kuliah umumnya di Jakarta pada tahun 2004, Stiglitz menyarankan Indonesia untuk memfokuskan penembangan ekonomi pada sektor yang menjadi mayoritas warganya. Karena penduduk indonesia sebagian besar masih tinggal di pedesaan dan mengandalkan penghidupannya pada sektor ini, maka pengembangan pertanian harus sudah beranjak ke pola yang lebih strategis dan prospektif.
Maksudnya, pengembangan sektor pertanian tidak lagi sekedar memproduksi komoditi mentah tetapi juga harus mempunyai nilai lebih yaitu mengolahnya dan menghasilkan barang jadi, initentu lebih bernilai dan menguntungkan. Sayangnya, kritik Stiglitz, Indonesia mengabaikan ini dan membiarkan sebagian hasil pertaniannya diolah di luar Indonesia.
Terkait krisis ekonomi Indonesia yang tidak kunjung usai, Stiglitz berpendapat,banyak kebijakan ekonomi indonesia yang salah arah, ini akibat indonesia sudah menjadi “siswa tauladan” IMF dan Bank Dunia. Indonesia melahap habis resep kedua lembaga donia tersebut untuk melakukan liberalisasi dan swastanisasi.
Stiglitz mengakui pentingnya kedua agenda yang didesakkan konsensus Washington (IMF, Bank Dunia, dan Departemen Keuangan AS) tersebut, Namun,untuk konteks indonesia, seperti juga negara-negara berkembang lainnya seperti Rusia dan Amerika Latin, upaya ini dinilai masih terlalu dini, Krisis Asia adalah bukti gagalnya resep IMF itu. Indonesia sendiri mengalami krisis akibat liberalisasi dan deregulasi sektor keuangan.
Yang terpenting dari itu semua adalah soal pendidikan. Indonesia harus membuat kebijakan yang mendorong peningkatan akses terhadap pendidikan bagi semua warganya karena pendidikan adalah invastasi besar yang memiliki dampak jangka panjang bagi sebuah negara.


